Dorong Pertumbuhan, Pemerintah Percepat Belanja dan Beri Diskon Besar Transportasi
JAKARTA, 28 NOVEMBER 2025 – Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dengan mempercepat realisasi belanja negara menjelang akhir 2025. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Airlangga mengungkapkan bahwa hingga saat ini penyerapan anggaran di kementerian dan lembaga besar telah mencapai sekitar 70 persen. Pemerintah menargetkan realisasi belanja bisa menyentuh 95 persen pada akhir tahun.
Program prioritas seperti MBG, Sekolah Rakyat, layanan cek kesehatan gratis, hingga perluasan listrik desa juga terus digenjot.
Selain belanja negara, Airlangga memaparkan berbagai insentif perjalanan yang diberikan pemerintah untuk mendukung mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun.
Program diskon itu mencakup tarif kereta api hingga 30 persen (22 Desember–10 Januari) dengan target 1,5 juta penumpang dan potongan tarif kapal laut 20 persen (17 Desember–10 Januari) untuk 405.881 penumpang. Selain itu juga diskon tiket pesawat 13–14 persen (22 Desember–10 Januari) yang menyasar 3,5 juta penumpang, serta potongan tarif tol 10–20 persen.
Rangkaian stimulus ini diharapkan dapat mendorong peningkatan konsumsi masyarakat di awal tahun. Airlangga memproyeksikan belanja masyarakat pada Januari mencapai Rp116 triliun.
Jumlah tersebut berasal dari Hari Belanja Nasional (10–16 Desember) dengan nilai transaksi sekitar Rp33–34 triliun, kampanye “Belanja di Indonesia Saja” (18 Desember–4 Januari) yang diperkirakan mencapai Rp30 triliun, serta program epic sale minimarket sepanjang 1–31 Desember dengan target Rp56 triliun.
Airlangga juga melaporkan perkembangan kerja sama ekonomi dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman investasi proyek industri strategis senilai Rp36,4 triliun. Seluruh investasi akan ditempatkan di Kawasan Industri Batang.
Proyek tersebut mencakup pembangunan pabrik baja berkapasitas 1 juta ton, industri pengolahan daging dan produk kelautan, perdagangan nikel iron, riset dan pengembangan tekstil premium, sektor batu bara, hingga kerja sama penyediaan bahan baku tekstil.
Selain itu, kerja sama juga meliputi pengembangan industri teh dan melati, serta direct sourcing produk pertanian seperti kelapa dan durian.